Kamis, 10 Mei 2012

chapter 080512, 23:50

malam ini, 11.111 prajurit dikirim untuk menjaga 1 orang yang berada di pusat bumi..
dan "si putih" pun dengan gagahnya didaulat untuk memimpin ribuan pasukan itu dengan 1 alasan, untuk menjaga keselamatan "sang pembawa amanah"..
lalu pria tampan nan gagah itu pun datang, tersenyum simpul dengan tatapan yang sangat tajam..
senyum simpulnya seolah-olah berkata,menantang "sang pengganggu" dengan ucapan tegas, "silahkan, lakukan apa yang kalian mau, kami ingin tau sehebat apa kalian"
pria ini, pria tampan ini selalu membuat ku kagum..
ketampanannya, kesahajaannya, luar biasa..
sesaat kemudian, "sang anggun" datang dengan gaun hijaunya nan indah, tersenyum manis, masih dengan tatapan lembutnya, tak ada kemarahan di sana..
perempuan anggun ini, aku menyebutnya "wanita tercantik"..
ia memang cantik, sangat cantik..
entah kata apa yang bisa mewakili itu..
yang pasti ia lebih dari sekedar "cantik"..
gaun hijau itu, jubah emas itu, mahkota emas dengan batu hijau itu, rambut panjang yang terurai itu..
semuanya..sempurna!
lalu, seorang wanita cantik berbusana merah, bermahkota emas dengan mustika merah di tengahnya, ikut dalam rombongan itu..
melingkar dengan anggun disertai senyum manis di bibirnya..cantik..
aku baru melihat wanita ini, entah itu siapa, tapi perempuan itu cantik, sangat cantik..
berjalan pelan dengan kebaya kuning emasnya..
ia juga tersenyum..
perempuan lagi, dengan kebaya hijaunya..cantik..
tapi ada kemarahan di wajahnya..
temperamen, emosional, tapi tak kehilangan cantiknya..
tak lama, 2 orang pria tampan dengan beskap hitam lengkap dengan kopiahnya, berjalan beriringan..
wajahnya teduh, menenangkan..senyum itu..menawan..
pria lagi, setengah baya, dengan koko putih dan kopiah hitam..
badannya tegap, senyumnya menawan..
cuma 1 kata yang terucap : "assalamualaikum"
pria itu, pria berwajah teduh itu, pria yang begitu ku rindukan itu, pria yang ku kenal sepanjang hidupku itu, pria yang begitu menyayangiku itu, selalu luar biasa di mataku..
melihat wajahnya saja terasa cukup untuk menenangkan pergolakan batin dan ketakutan dalam diriku..
masih pria, berbadan tegap, dengan pakaian layaknya pria-pria zaman kerajaan dulu, lengkap dengan senjatanya, berjalan tergesa..
tatapannya dingin, matanya tajam, menusuk..
pria ini, emosinya selalu meledak-ledak..
tapi tak pernah kehilangan sisi baiknya..
lagi, seorang wanita 60 tahunan, berkebaya putih, cantik..
masih sama seperti terakhir aku melihatnya, bahkan lebih cantik dari pada dulu..
ia tersenyum..
senyumnya itu, senyum yang kurindukan beberapa tahun belakangan ini..
senyum yang dulu mampu meredakan tangis..
ya..wanita itu..
kelembutan hatinya, kesabarannya, kesederhanaannya..
Tuhan..tidak salah jika aku mengaguminya..
mereka telah berkumpul di sini, seolah pasang badan dan tetap tersenyum walau segala penjuru menghadiahkan serangan maha dahsyat..
mereka tetap di sana, bertahan dengan keyakinannya masing-masing..
mereka berkata "tak usah takut, jangan gentar..Dia di sana menjagamu setiap waktu..kami pun di sini sebagai perantaraNya untuk menjaga dan melindungimu"
tenang sekali, hanya beberapa di antara mereka yang terlihat kesal dan ingin marah..
namun yang lainnya tetap tenang dan mencoba menenangkan dengan "bahasa mereka"..
kemarahan itu kemudian mereda..mereka tersenyum lagi..
salah satu di antara mereka berkata, "semua akan baik-baik saja, percaya pada Tuhanmu"
aku, aku tidak takut!
aku tidak gentar dengan ini..
walau segala penjuru bersatu, namun aku tau Sang Pemilik Hidup lah yang paling berkuasa atas hidup dan matiku..
mereka tersenyum lagi..
salah satu di antara mereka berkata "keyakinan itu, nak..keyakinan itu yang kau butuhkan untuk mengalahkan semuanya"
lalu tanpa diduga, seorang pria gagah dengan seragam kebesaran dan tongkat komandonya pun datang..
wajahnya itu..
wibawanya terpancar jelas dari sana..
"orang besar" itu kemudian melangkah pelan menuju "kumpulannya"..
senyumnya tipis, suaranya berat, langkahnya teratur..
tampan, gagah, menawan..
aku selalu tertunduk ketika berhadapan dengannya..
tatapannya itu terlalu "membunuh"..
seperti kehilangan segala kekuatan saat menatapnya..
ketegasan dan kewibawaan yang sulit ditemui dalam diri "orang-orang besar" masa kini..
ia seperti hamba yang diagungkan..
namun dengan tegas ia menyatakan bahwa ia tetaplah hamba, hanya hamba dan akan tetap menjadi hamba..
kalimat tegas meluncur dari bibirnya..
"jadilah sebaik-baiknya pengemban amanah, anakku..jangan kalah hanya karena ancaman..kamu pasti bisa"
kemudian ia melanjutkan kalimatnya..
"ingat satu hal, nak..Tuhanmu jauh lebih hebat dari manusia-manusia itu..kalahkan mereka, lihat semua kelemahannya"
aku tertegun mendengar suara itu, mencerna kalimat itu..
dengan berani aku tegakkan kepalaku, tersenyum dan kemudian berkata "insyaallah, ayah"
ia hanya membalas senyumanku dengan satu anggukan pasti..
akhirnya mereka pun menyudahi pertemuan itu..
semuanya sudah kembali normal..
senyum-senyum itu tetap ada di bibir mereka..
mereka pamit..
aku mengantar kepulangan mereka ke tempatnya masing-masing..
sebelum pergi, serempak mereka mengucapkan salam..
suara-suara lembut itu, selalu menenangkan..
aku tersenyum lega, mengucap syukur tak terhingga kepada Sang Maha Kuasa..
ternyata begini rasanya..
keberadaan mereka untukku, atas izinNya..
ya..semuanya akan baik-baik saja..
terima kasih untuk malam ini..
terima kasih untuk kunjungan dan penjagaannya..
terima kasih..
kita hadapi ini bersama..
ini belum berakhir..
chapter baru pun dimulai dari titik ini..
dengan mereka dan Dia, aku yakin aku bisa hadapi dunia, dengan perlindunganNya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar