Sabtu, 12 Mei 2012

chapter 120512, 18:12

Assalamualaikum..
saya kembali lagi duduk di depan layar ini..
tapi kali ini tidak untuk bercerita panjang tentang mereka di sana..
hanya untuk meredakan pergolakan batin yang terjadi dalam diri saya..
kali ini saya hanya ingin "menetralkan" semuanya..
berkali-kali saya katakan bahwa ini hanya tulisan saya, berdasarkan atas apa yang saya lihat melalui "penglihatan" lain yang Allah anugerahkan kepada saya..
saya menulis bukan untuk membuat anda-anda yang membaca ini percaya kepada penglihatan saya, tapi hanya untuk berbagi cerita tentang "mereka"..
agar kita bisa sedikit merasakan apa yang mereka rasa..
saya bukan Tuhan, jadi saya tidak bisa memastikan apa yang saya lihat..
saya hanya "melihat" dan membahasakan apa yang saya lihat..
menulis 4 chapter tentang "si burung besar" membuat hati saya begitu terenyuh..
sakit sekali ketika saya harus "melihat" sesuatu yang begitu memilukan, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa..
hanya bisa membuka mata, telinga dan hati selebar-lebarnya untuk melihat, medengar dan merasakan apa yang mereka rasakan di luar sana..
saya masih sama seperti kalian, masih berharap ada yang bisa bertahan, tidak semuanya meninggal, saya masih menunggu keajaiban Allah kepada salah 1, atau 2, atau 3 atau lebih..
saya masih berharap yang saya lihat itu salah, sama seperti harapan keluarga-keluarga korban di luar sana..
saya masih menganggap apa yang saya lihat hanya lah sebagian saja..
saya masih berpikir bahwa Allah hanya memperlihatkan sebagian rahasiaNya kepada saya..
saya masih berharap ada bagian lain yang tidak saya lihat, yaitu mereka yang selamat..
saya masih berharap Allah berkenan memperlihatkan sedikit rahasiaNya lagi kepada saya untuk melihat lebih banyak lagi tentang mereka yang masih bernyawa..
saya masih dan akan terus berharap sampai bapak-bapak yang bertugas di luar sana memastikan kebenarannya..
saya masih berharap yang terbaik untuk mereka..
"mereka" yang "berbicara dan menemui" saya beberapa hari ini mungkin mereka yang memang sudah tidak ada..
tapi saya ingin meyakini bahwa keajaiban Allah selalu ada..
saya masih ingin melihat ada yang selamat..
salah seorang dari "mereka" sempat berbincang dengan saya, hari ini, menjelang pagi tadi..
seorang pria, mungkin 40 tahunan, kulit coklat, namun saya tidak bisa menebak apa warna pakaiaannya karena hampir seluruhnya ditutupi "cairan merah"..
ceritanya kira-kira begini..

"hmmm..waktu itu, saya, istri dan anak-anak saya pernah menonton sebuah film..film itu bercerita tentang kecelakaan sebuah pesawat..pada saat itu saya sempat berujar, "kasian ya korban-korbannya, keluarganya pasti sedih"..lalu istri saya menjawab "semoga kita tidak mengalami yang seperti itu ya, yah"..saya hanya tersenyum mendengar itu..tapi adik lihat saya sekarang? saya mengalami hal yang sama dengan film yang saya tonton, dan keluarga saya di luar sana masih harap-harap cemas menanti kabar tentang saya..bagaimana bisa saya menyampaikan kepada istri saya? bagaimana mereka? istri dan anak-anak saya pasti sedih..tapi saya bisa apa? sudah takdirNya saya harus begini..tolong doakan saya ya, dik..doakan keluarga saya juga"

bisa anda bayangkan bagaimana perasaannya?
bisa anda bayangkan seperti apa keluarganya?
saya tidak berani membayangkan..
terlalu menyesakkan..
mendengarnya saja membuat hati saya terenyuh..
Ya Allah..

hmmm..
mungkin hanya ini yang bisa saya ceritakan tentang ini..
semoga Allah memudahkan jalan mereka yang sudah tiada..
semoga Allah memberikan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan kepada keluarga-keluarga yang ditinggalkan..
semoga semua jenazah yang meninggal bisa segera ditemukan..
jika masih ada yang bernyawa, semoga Allah memberikan kekuatan kepadanya untuk bertahan sampai tim penyelamat menemukannya..
dan semoga Allah melapangkan hati kita untuk terus berdoa untuk mereka..

semoga kalian beristirahat dengan tenang di sana..

Aamiinn..

chapter 120512, 00:57

selamat malam..
lagi-lagi saya harus menatap layar ini..
membiarkan jari-jari saya menari lagi di atas deretan huruf-huruf tak beraturan ini..
menyusun kata lagi, merangkai kalimat lagi..
tadinya saya ingin tutup mata, tutup telinga, tutup mulut..
tak mau lagi melanjutkan ini..
terlalu menyakitkan, terlalu mengerikan..
tapi saya lupa bahwa ada 1 organ yang tidak bisa saya tutup, HATI..
hati saya masih mendengar rintihan mereka..
hati saya juga masih melihat menderitanya mereka..
mereka yang kini terbujur kaku di segitiga hijau kota hujan itu..
Masya Allah..
ketika tulisan ini saya buat pun kepala saya seperti dihantam benda keras, sakit..
seperti memikul beban luar biasa berat..
"mereka" ingin saya membahasakan lagi apa yang saya lihat, apa yang saya dengar..
satu kata yang terjadi pada diri saya saat ini..
"merinding"

i think i'm totally insane!

tapi lagi-lagi, nurani terketuk untuk melanjutkan semuanya..
saya sadar, Allah memperlihatkan semua ini kepada saya untuk tujuan mulia..
tidak seharusnya saya mengeluh, tidak semestinya saya tidak mempedulikan mereka..
saya sudah melihat dari awal..
jadi saya harus menyelesaikannya..
sekali lagi, ini hanya tulisan saya..
tanpa makna, tanpa maksud menyindir, tanpa mengatasnamakan siapapun..
hanya saya dan Allah saja..
kebaikan Allah untuk memperlihatkan semuanya kepada saya dan kewajiban saya untuk mengikuti mauNya..
membahasakan ini lagi dengan cara sederhana..
membahasakan penglihatan saya dalam rangkaian kata..
mari berdoa saudaraku..
mari doakan mereka untuk memudahkan jalan mereka kembali padaNya..

Bismillahirahmanirahim..

masih di sisi segitiga hijau di kota hujan..
hari ini beberapa muntahan "isi perut" si "burung besar" berhasil ditemukan..
mereka telah di angkat dan ditempatkan di tempat yang lebih layak..
masih beberapa, belum semuanya..
lalu kemana yang lain?
kenapa "orang-orang" itu tidak mengangkat semuanya?
jawabannya masih samar, dengan banyak versi menurut "orang"nya masing-masing..
salah satu jawabannya "medannya sulit"
ya..memang sulit dijangkau..
tapi jeritan itu, tangisan itu, rintihan itu, penderitaan itu, ketakutan itu, semuanya lebih dari sekedar "sulit"..
MEMILUKAN..
ya..itu lah kata yang mewakili semuanya..
"kenapa kalian tak kembali ke tempat di mana seharusnya jiwa kalian berada?",tanyaku..
salah seorang di antara mereka menjawab, "tolong kami, kami ingin bersama keluarga kami"
Ya Tuhan..bagaimana bisa?
jiwa mereka telah terpisah dari raganya..
"bagaimana bisa kalian bersama keluarga kalian dalam keadaan yang sudah berbeda?",tanyaku lagi..
seorang pria setengah baya menjawab "bukan *bersama* dalam arti sebenarnya, yang kami maksud adalah kami ingin dikembalikan kepada keluarga kami, agar mereka tau bahwa kami benar-benar sudah tak ada lagi di dunia ini, kami ingin jasad kami dikembalikan kepada mereka..tolong temukan kami, utuh atau salah satu bagiannya"
aku tertegun..
ambigu..
"merinding"
suara-suara itu menyatu, mereka semua bicara, terdengar seperti suara lebah yang sedang berkumpul dengan kawanannya..
bagaimana bisa?
bagaimana bisa aku membantu mereka?
aku mungkin hanya bisa mendengar, hanya bisa melihat, hanya bisa membahasakan apa yang aku lihat dan aku dengar..
aku tidak bisa bertindak..
Ya Allah..harus beginikah caraMu mengambil mereka?
apa yang dikatakan oleh pria asing itu?
ia mencoba mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti maksudnya..
"katakan, katakan maksudmu, pak..katakan sesuatu yang bisa aku mengerti"
namun ia kemudian memilih diam dan berhenti bicara karena aku tak mengerti maksudnya..
Masya Allah..
seorang perempuan cantik tersenyum..
ia tidak meminta apa-apa selain doa..
bisik lirihnya terbaca "tolong doakan kami, agar kami ikhlas meninggalkan dunia ini..mungkin memang harus begini caranya..semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada keluarga kami"
kalimat tulus perempuan itu berbuah anggukan dari yang lain..
ya..mereka hanya ingin didoakan..
permintaan yang begitu sederhana.. 
perempuan itu mewakili semuanya..
siapakah dia?
senyum manisinya itu..tulus sekali..
dia tidak terluka, tapi kenapa dia "berbeda"?
perempuan itu kemudian berkata sambil menunjuk ke suatu tempat..
"lihat itu, itu jasadku, mba..lukaku parah kan?"
aku melihat ke tempat yang ia maksud..
Astagfirullahaladzim..
perempuan itu..perempuan itu terluka parah..
cairan merah hampir menutupi sekujur tubuhnya..
wajahnya hampir tak bisa dikenali..
dan..salah satu tangannya hampir terlepas dari tubuhnya..
aku melihat kembali wajah cantik itu..ia tersenyum dan berkata
"aku sudah mengikhlaskan diriku untuk kembali padaNya mba..inilah aku sekarang..
tolong doakan aku, tolong doakan kami semua yang ada di sini"
aku diam, tak ada 1 katapun yang meluncur dari bibirku..
mulutku merapat, tak mampu lagi bicara..
ternyata begini..
aku kemudian berusaha menyampaikan sesuatu..
hanya sedikit yang bisa aku katakan..
dan kata-kata itu pun meluncur begitu saja..
"insyaallah saya akan mendoakan kalian..semoga keluarga kalian diberikan ketabahan, kekuatan dan keikhlasan untuk melepaskan kepergian kalian..semoga mereka di luar sana juga berkenan mendoakan kalian..semoga Tuhan menempatkan kalian di tempat terbaik di sisiNya..beristirahatlah dalam damai"
mereka tersenyum, mereka mengangguk dan berucap "terima kasih"
tak ada lagi tangisan itu, tak ada lagi jeritan itu, tak ada lagi rintihan itu..
mereka kini terbebas dari penderitaan, dari kesakitan, dari kedinginan..
beristirahatlah dengan tenang, saudara-saudaraku..

semoga ini akhir dari cerita ini, tak ingin lagi ku dengar tangisan dan rintihan kalian..
bukan karena aku tak mau, tapi karena aku tak sanggup untuk itu..
aku tak tega..

Ya Allah Ya Rabb..aku yang lemah ini memohon segala kemuliaan dariMu untuk mereka..
tempatkanlah mereka di tempat terbaik di sisiMu..
hapuskan segala dosa mereka..
lakukan semua yang terbaik menurutMu untuk mereka dan untuk orang-orang yang mereka tinggalkan..
ini tulisanku untuk membahasakan maksudku..
hanya untuk sedikit berbagi cerita dari sisi yang berbeda..
semoga Allah memuliakan mereka, memuliakan kita semua..

Aamiinn..

Jumat, 11 Mei 2012

chapter 110512, 18:46

astagfirullahalazim..
masyaallah..
cuma kata-kata itu yang terucap ketika gambaran mengerikan itu melintas di kepala..
Allah terlalu baik memberikan anugerah luar biasa ini..
aku diperlihatkan lebih dulu dan lebih banyak tentang sesuatu yang belum dilihat oleh banyak orang di luar sana..
tapi penglihatan itu selalu menimbulkan pergolakan batin yang tak kunjung selesai..
seperti saat ini, detik ini, di depan layar ini, bersama deretan huruf-huruf ini..
berusaha mengumpulkan potongan-potongan puzzle yang berceceran tentang cerita "si burung besar"..
ini hanya lah tulisan saya..
tak bermakna..
tak bermaksud menyesatkan..
hanya sebuah penglihatan yang tak terduga..
mungkin hanya ini caranya..
mencoba mengungkap sedikit "rahasia" yang tersembunyi di sana, di sisi kiri segitiga hijau di kota hujan itu..

here we go..

Bismillahirrahmanirrahim..

siang itu, 090512
seekor "burung besar" terbang dengan gagahnya di angkasa..
mengudara, melanglang buana dengan anggunnya..
beberapa waktu setelah "burung besar" itu mengudara, entah karena apa ia seperti kehilangan kemampuannya untuk mengepakkan sayap-sayapnya..
burung itu mencoba terbang lebih rendah, tidak lagi mendekati angkasa, tapi di pertengahan bumi..
saat itu asap putih menutupi segitiga hijau di kota hujan itu..
asap putih yang menghalangi pandangan sang "burung besar"..
terbang rendah dari biasanya tidak membuat "burung besar" itu kehilangan keanggunannya..
"si burung besar" tetap terbang, menembus asap putih itu dengan pasti..
namun saat asap putih itu berhasil ia lalui, tebing batu menghadang di depannya..
kenapa ini?
ia berusaha untuk terbang ke arah yang berlawanan..
terlambat..sayap kirinya menghantam dinding berbatu itu..
tabrakan keras..
"burung besar" kehilangan keseimbangannya..
kepalanya pun menghantam tempat yang sama..
"burung besar" itu "pingsan"..
jatuh tak berarah..
sayap kirinya patah..
"isi perutnya" dimuntahkan ke udara, terhempas pasrah..
"burung besar" pun tak berdaya untuk mengepakkan sayapnya seperti semula..
sayapnya terluka parah..
bagaimana ini??
ia jatuh..
raksasa udara itu jatuh terhempas menghantam hijaunya sisi segitiga..
tubuhnya rusak..
sayap kanan dan ekornya pun patah..
dan ia memuntahkan lagi "isi perutnya" untuk kedua kalinya..
mereka, "isi perutnya", terhempas tak berdaya..
menghantam bongkahan-bongkahan keras tak bergerak..
cairan merah itu menetes, mengalir deras..
teriakan itu..
memekik tak berarah..
melengking memecah hari..
mereka terhempas, terjepit, terhimpit, tertusuk, terbentur..
mereka..tidak bergerak..
"burung besar" hanya bisa melihat dan tak kuasa mengangkat isi perutnya lagi..
lukanya terlalu parah..
sakit..sakit sekali..mereka terluka..terluka parah..
"tolooonnnggg.."
"Ya Allah.."
"Tuhaaannn.."
"mamaaa.."
teriakan itu..entah ditujukan untuk siapa..
mereka di sana..menunggu, menahan sakit, mencoba bergerak sebisanya..
tapi luka itu terlalu parah..
kenapa banyak yang tak bergerak?
waktu tak menunggu..
ia terus berjalan, berputar dan berhasil membuat segalanya gelap..
gelap..sakit..dingin..
langit menangis..
air matanya menetes dengan derasnya membasahi segitiga hijau..
udara ini menusuk, membuat luka-luka itu semakin sakit..
membuat cairan merah yang basah itu mengering dan membeku..
mereka di sana..
masih menunggu..
entah sampai kapan..
"Ya Allah..tolong kirimkan bantuanmu untuk kami", ucap salah seorang di antara mereka..
namun ucapannya hanya berhenti di tenggorokannya..
karena setelah itu ia diam dan menutup mata..
seorang pria dengan seragam putih berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh beberapa orang di sekitarnya..
apakah dia minta tolong?
apakah dia mengadu kepada Tuhan?
apa?
apa yang ia katakan?
lalu seorang perempuan cantik, perempuan yang sebelumnya cantik, berbaju biru compang camping dengan luka parah di wajah cantiknya, mulai berucap, "Tuhan,tolong kami".."Mama..aku takut di sini..aku ingin pulang, Mama"
seorang pria dengan suara terbata-bata, susah payah membuka mulutnya untuk mengucapkan beberapa kata..
yang terdengar hanya "anak-anakku, maafkan ayah tidak bisa lagi menjaga kalian..tubuh ayah sakit sekali nak..Ya Allah tolong jaga keluargaku..kuatkan istriku untuk menjaga anak-anakku tanpa aku"
pria lagi..ia menangis tanpa suara..mungkin ia takut, atau mungkin ia kesakitan..tanpa kata, tak ada yang terucap..cairan merah mengalir deras dari kepalanya, ia sekarat..
 perempuan muda dengan seragam hitam, menangis, ketakutan menguasainya..
dengan pelan ia berkata "mama..mama..mama"
seorang pria terbaring lemah di sisi kanan sayap "sang burung besar"
masih muda..
ia berkata "ma, jaga mereka untuk papa"
pria lagi, setengah baya, meringis kesakitan..
Ya Allah, ia kehilangan salah satu bagian tubuhnya..
ia terjepit dan terhempas dengan kerasnya..
ia menyerah, lukanya terlalu parah..
ia pergi tanpa kata..

Ya Tuhan..
mencekam sekali..mengerikan sekali..

mereka masih di sana..
adakah yang menemukan mereka?
jiwa mereka masih di sana..
tapi hari ini, jiwa-jiwa itu melayang dan kembali kepada pemilikNya..
mereka tak kuasa melawan kehendakNya..
tak mampu menentang garis takdirNya..
mereka pasrah, tapi tidak menyerah..
Tuhan memilih bertindak karena ingin mengurangi penderitaan mereka..
membawa mereka pulang tanpa luka dan cairan merah..

chapter 110512, 02:41

dini hari ini..
masih di sisi kiri segitiga di kota hujan itu..
kemana mereka?
mereka yang ku lihat kemarin?
dua orang pria dan satu wanita..
tak terdengar lagi rintihan pilu itu..
tak terdengar lagi bisik lirih itu..
tak terdengar lagi ratap penuh harap itu..
kemana mereka?
kenapa semuanya diam?
kenapa semuanya tak bersuara?
"burung besar" itu sudah terluka parah..
luka parah di kedua sayap dan ekornya..
ia lumpuh,sekarat,mati..
"burung besar" itu tak lagi bisa diselamatkan..
"isi perutnya" berceceran setelah dimuntahkannya dua hari lalu,di siang itu..
kenapa semuanya bisu?
beberapa jam yang lalu masih ku dengar rintihan memilukan dari perempuan muda itu..
tapi sekarang kemana?
kenapa perempuan itu diam?
kau kedinginan?
alam lebih berkuasa,seperti tak memberikan celah untuk sekedar menyampaikan suara..
udara ini dingin,terlalu dingin untuk mereka yang masih terjaga..
namun udara ini tak akan pernah bisa menyaingi dinginnya raga yang terbujur kaku itu..
semua seperti membeku..
Tuhan..
tidakkah Kau lihat mereka?
tak bisakah mereka diselamatkan?
mencekam sekali di sana..
membayangkannya saja membuat tubuhku bergetar..
bagaimana dengan mereka?
mereka di sana,masih di sana..
kaki segitiga itu menjadi saksi bisu bagaimana menderitanya mereka..
sakit..
luka-luka itu terasa begitu menyakitkan..
tak bisa kah Kau bawa mereka pulang,Tuhan?
menangis..
itu yang terjadi..
ketika satu-satunya "pejuang" yang masih tersisa di sana Kau ambil..
Kau bawa dia "pulang" ke rumahMu..
kau bawa mereka "pulang" ke istanaMu..
kenapa begini?
kenapa tak ada satu orang pun yang tersisa?
semua gelap,semua bisu,semua tak bergerak..
bulan pun nampak ragu memunculkan sinarnya..
sepertinya bulan berduka..
bulan melihat mereka dari atas sana..
namun bulan pun tak bisa berkata apa-apa..
hanya diam dan ikuti perintah..
dalam heningnya permulaan pagi,mereka di sana,terbujur tak berdaya..
mereka..tak bernafas..
binatang malam bersaut-sautan seolah memberi tanda..
tapi siapa yang mendengar?
siapa yang akan membawa mereka pulang?
dada itu tak lagi naik turun,tak ada lagi detak di sana..
semuanya bisu..
habis..

Kamis, 10 Mei 2012

chapter 100512, 08:53

sisi kiri sebuah segitiga di kota hujan..
di situ, iya di situ..
dingin..berembun..
ya..mereka di sana..
meringkuk, berlindung, terhimpit, entah bagaimana menemukannya..
tapi mereka di sana, sekarat..
pohon-pohon tajam siap menusuk dan menyobek tubuh "si burung besar"
hantaman batu-batu itu berhasil menggoyahkan kepakan sayapnya..
"burung besar" itu terluka parah dan memuntahkan "isi perutnya"..
lalu salah satu dari mereka mencoba merangkak menjauhi puing-puing "burung besar" itu..
menembus dinginnya pagi untuk mencari sedikit harapan hidup..
luka parah di salah satu kakinya membuatnya sulit bergerak..
bahkan untuk merangkak pun ia sulit..
menderita..sakit sekujur tubuh..miris..
satu orang lainnya, tak bisa bergerak..
ia terjepit di bawah sayap sang burung..
hanya bibirnya yang terus menerus bergerak..
mungkin ia berdoa..
ya..ia berdoa..
air mata itu..ia takut..
hanya 2?kemana yang lain?kenapa tak bergerak?
tidur?pingsan?atau..
apa itu?samar-samar seperti tertutup kabut..
kenapa harus di sana?tak terlihat..
rintihan itu, tangisan itu seperti semakin menjauh..
tak lagi terdengar..
mata itu tertutup..
bibir itu membiru..
tubuh itu bergetar..
dingin..sangat dingin..
tiba-tiba dari sisi yang berlawanan, sebuah suara minta tolong terdengar lirih memecah dinginnya pagi..
tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli..
mereka pun pasrah, menunggu keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan mereka..
beberapa burung lain terbang hilir mudik di atasnya..
burung-burung besar itu tidak melihat keberadaan mereka..
teriakan mereka pun seolah tidak berguna, tak mampu menjangkau kuatnya deru suara alam..
mereka diam lagi, meringkuk lagi, menangis lagi dan berdoa lagi..
seperti inikah rasanya?
ketakutan menghadapi keputusasaan..
merintih pasrah..
banyak di antara mereka terbujur kaku seperti beku..
diam tak bergerak..
darah bercucuran, luka menyayat dan perih..
tak ada tanda-tanda kehidupan..
hanya luka yang bercerita..
pasti sakit..
"adakah seseorang yang akan menolong kami?", ucap lirih seorang wanita muda..
tak ada jawaban, bahkan alam pun tak memberikan tanda..sunyi..
mencekam, mengerikan, dingin, tangis lirih, ratapan harap, rintih kesakitan, semuanya bersatu..
seperti mimpi buruk yang belum berakhir..
ingin segera terjaga dari ini..
hanya harapan, masih dan terus berharap, semoga ada keajaiban untuk mereka..
karena mereka "tak terlihat", seperti tertutup kabut gelap..
biarkan alam yang memberikan tanda, karena suara-suara mereka menghilang dan lenyap di udara, tak mampu menembus cakrawala..
diam lebih baik sepertinya..
semoga segera terlihat..
keberadaan mereka di sana, ketakutan yang melingkupinya..
semoga semuanya baik-baik saja..
dan semoga mimpi buruk ini segera berakhir..
"burung besar" ini mungkin tidak bisa diselamtkan, tapi setidaknya mereka bisa mengumpulkan "isi perutnya" yang telah tumpah ruah mencium tanah..

chapter 080512, 23:50

malam ini, 11.111 prajurit dikirim untuk menjaga 1 orang yang berada di pusat bumi..
dan "si putih" pun dengan gagahnya didaulat untuk memimpin ribuan pasukan itu dengan 1 alasan, untuk menjaga keselamatan "sang pembawa amanah"..
lalu pria tampan nan gagah itu pun datang, tersenyum simpul dengan tatapan yang sangat tajam..
senyum simpulnya seolah-olah berkata,menantang "sang pengganggu" dengan ucapan tegas, "silahkan, lakukan apa yang kalian mau, kami ingin tau sehebat apa kalian"
pria ini, pria tampan ini selalu membuat ku kagum..
ketampanannya, kesahajaannya, luar biasa..
sesaat kemudian, "sang anggun" datang dengan gaun hijaunya nan indah, tersenyum manis, masih dengan tatapan lembutnya, tak ada kemarahan di sana..
perempuan anggun ini, aku menyebutnya "wanita tercantik"..
ia memang cantik, sangat cantik..
entah kata apa yang bisa mewakili itu..
yang pasti ia lebih dari sekedar "cantik"..
gaun hijau itu, jubah emas itu, mahkota emas dengan batu hijau itu, rambut panjang yang terurai itu..
semuanya..sempurna!
lalu, seorang wanita cantik berbusana merah, bermahkota emas dengan mustika merah di tengahnya, ikut dalam rombongan itu..
melingkar dengan anggun disertai senyum manis di bibirnya..cantik..
aku baru melihat wanita ini, entah itu siapa, tapi perempuan itu cantik, sangat cantik..
berjalan pelan dengan kebaya kuning emasnya..
ia juga tersenyum..
perempuan lagi, dengan kebaya hijaunya..cantik..
tapi ada kemarahan di wajahnya..
temperamen, emosional, tapi tak kehilangan cantiknya..
tak lama, 2 orang pria tampan dengan beskap hitam lengkap dengan kopiahnya, berjalan beriringan..
wajahnya teduh, menenangkan..senyum itu..menawan..
pria lagi, setengah baya, dengan koko putih dan kopiah hitam..
badannya tegap, senyumnya menawan..
cuma 1 kata yang terucap : "assalamualaikum"
pria itu, pria berwajah teduh itu, pria yang begitu ku rindukan itu, pria yang ku kenal sepanjang hidupku itu, pria yang begitu menyayangiku itu, selalu luar biasa di mataku..
melihat wajahnya saja terasa cukup untuk menenangkan pergolakan batin dan ketakutan dalam diriku..
masih pria, berbadan tegap, dengan pakaian layaknya pria-pria zaman kerajaan dulu, lengkap dengan senjatanya, berjalan tergesa..
tatapannya dingin, matanya tajam, menusuk..
pria ini, emosinya selalu meledak-ledak..
tapi tak pernah kehilangan sisi baiknya..
lagi, seorang wanita 60 tahunan, berkebaya putih, cantik..
masih sama seperti terakhir aku melihatnya, bahkan lebih cantik dari pada dulu..
ia tersenyum..
senyumnya itu, senyum yang kurindukan beberapa tahun belakangan ini..
senyum yang dulu mampu meredakan tangis..
ya..wanita itu..
kelembutan hatinya, kesabarannya, kesederhanaannya..
Tuhan..tidak salah jika aku mengaguminya..
mereka telah berkumpul di sini, seolah pasang badan dan tetap tersenyum walau segala penjuru menghadiahkan serangan maha dahsyat..
mereka tetap di sana, bertahan dengan keyakinannya masing-masing..
mereka berkata "tak usah takut, jangan gentar..Dia di sana menjagamu setiap waktu..kami pun di sini sebagai perantaraNya untuk menjaga dan melindungimu"
tenang sekali, hanya beberapa di antara mereka yang terlihat kesal dan ingin marah..
namun yang lainnya tetap tenang dan mencoba menenangkan dengan "bahasa mereka"..
kemarahan itu kemudian mereda..mereka tersenyum lagi..
salah satu di antara mereka berkata, "semua akan baik-baik saja, percaya pada Tuhanmu"
aku, aku tidak takut!
aku tidak gentar dengan ini..
walau segala penjuru bersatu, namun aku tau Sang Pemilik Hidup lah yang paling berkuasa atas hidup dan matiku..
mereka tersenyum lagi..
salah satu di antara mereka berkata "keyakinan itu, nak..keyakinan itu yang kau butuhkan untuk mengalahkan semuanya"
lalu tanpa diduga, seorang pria gagah dengan seragam kebesaran dan tongkat komandonya pun datang..
wajahnya itu..
wibawanya terpancar jelas dari sana..
"orang besar" itu kemudian melangkah pelan menuju "kumpulannya"..
senyumnya tipis, suaranya berat, langkahnya teratur..
tampan, gagah, menawan..
aku selalu tertunduk ketika berhadapan dengannya..
tatapannya itu terlalu "membunuh"..
seperti kehilangan segala kekuatan saat menatapnya..
ketegasan dan kewibawaan yang sulit ditemui dalam diri "orang-orang besar" masa kini..
ia seperti hamba yang diagungkan..
namun dengan tegas ia menyatakan bahwa ia tetaplah hamba, hanya hamba dan akan tetap menjadi hamba..
kalimat tegas meluncur dari bibirnya..
"jadilah sebaik-baiknya pengemban amanah, anakku..jangan kalah hanya karena ancaman..kamu pasti bisa"
kemudian ia melanjutkan kalimatnya..
"ingat satu hal, nak..Tuhanmu jauh lebih hebat dari manusia-manusia itu..kalahkan mereka, lihat semua kelemahannya"
aku tertegun mendengar suara itu, mencerna kalimat itu..
dengan berani aku tegakkan kepalaku, tersenyum dan kemudian berkata "insyaallah, ayah"
ia hanya membalas senyumanku dengan satu anggukan pasti..
akhirnya mereka pun menyudahi pertemuan itu..
semuanya sudah kembali normal..
senyum-senyum itu tetap ada di bibir mereka..
mereka pamit..
aku mengantar kepulangan mereka ke tempatnya masing-masing..
sebelum pergi, serempak mereka mengucapkan salam..
suara-suara lembut itu, selalu menenangkan..
aku tersenyum lega, mengucap syukur tak terhingga kepada Sang Maha Kuasa..
ternyata begini rasanya..
keberadaan mereka untukku, atas izinNya..
ya..semuanya akan baik-baik saja..
terima kasih untuk malam ini..
terima kasih untuk kunjungan dan penjagaannya..
terima kasih..
kita hadapi ini bersama..
ini belum berakhir..
chapter baru pun dimulai dari titik ini..
dengan mereka dan Dia, aku yakin aku bisa hadapi dunia, dengan perlindunganNya..